Rabu, 10 Februari 2021

[Kita Akhirnya Sepakat...] Beberapa waktu di masa lalu, kita pernah saling mengg...


    [Kita Akhirnya Sepakat...] Beberapa waktu di masa lalu, kita pernah saling menggenggam. Saling merekatkan jemari dan saling memberi pesan bahwa semuanya tidak akan dilalui sendiri.

    Sampai pada di satu titik, melepaskan adalah sebuah kenyataan yang tidak bisa dielakkan.

    Sebuah takdir dimana akhirnya melepaskan dan perpisahan menjadi kewajiban yang harus dimakan. Tidak punya pilihan selain dipaksa untuk menelan walau sakitnya tidak karuan.

    Sebuah kenyataan getir yang harus diterima bahwa ternyata “kita” hanya menjadi kata dalam bait puisi tanpa pernah menjadi nyata.
    Terasa berbeda memang menjadi ganjil.

    Yang awalnya terbiasa genap, saling mendekap ketika gelap, sekarang saat malam menyergap, lengan hanya bisa merangkul senyap.

    Yang awalnya terbiasa untuk duduk berdua, menceritakan tawa dan kecewa ketika petang tiba, sekarang hanya menyisakan sayup-sayup duka dan luka yang menganga, tanpa ada cerita bahagia di dalamnya.

    Yang awalnya terbiasa untuk memberi peluk setelah beradu isi kepala, menenggelamkan resah dan gelisah ke dada, sekarang hanya bisa terisak sesak sembari menelan pahit realita yang tersisa secara sendiri saja.

    Kita menjadi asing. Menjadi tak peduli.

    Siapa yang patut untuk diberi penghakiman?

    Kita mencoba mencari pembenaran. Lalu kemudian mengutuk keadaan.
    Menyumpahi dengan berbagai macam makian, bahkan sampai menyalahkan Tuhan.
    Sekeras apapun memaksa, sekencang apapun cacian yang keluar, bukankah hasilnya tidak akan berubah:

    dimana perpisahan tetap menjadi tajuk utama, bukan?

    Hingga akhirnya kita sampai ditahap sependapat dan sepakat:

    bahwa perpisahan adalah perlindungan yang sengaja Tuhan berikan untuk menjaga dari sakit yang tak berkesudahan di masa depan.

    by: senjadikotatua
    #poetry #photography #phosphenous



    Source